Seni Berpuasa di Negeri Orang (Chicago)

0
291

Berpuasa di negeri orang memiliki tantangan tersendiri. Setidaknya, inilah kesan saya rasakan setelah hidup di Kota Chicago, Negara bagian Illinois, Amerika Serikat, selama 3 tahun belakangan. Sama dengan di tanah air, warga muslim Amerika Serikat memulai ibadah puasa Ramadan 1437 H pada tanggal 5 Juni 2016. Nah, cerita berikut ini merupakan sharing pengalaman saya, sebagai bagian dari warga Bogor, alumnus SMA 1 angkatan 1990, menjalani puasa beserta tantangannya di negeri orang.

Di Bulan Agustus tahun 2012, berbekal beasiswa pemerintah kerjasama dengan lembaga internasional, saya menjejakan kaki di bumi Paman Sam untuk menempuh pendidikan doktoral di salah satu universitas di kawasan Midwest. Tak terasa di tahun 2016, saya bertemu kembali dengan Bulan ramadan nan suci. Rasa suka cita menyelimuti saya, membayangkan indahnya ibadah puasa ditemani keluarga tercinta. Saya kebetulan tinggal bersama suami dan kedua anak perempuan saya.

https://www.discoverbogor.com/wp-content/uploads/2016/07/IMG-20160703-WA0000.jpg
Putri pertama saya sudah cukup besar untuk membantu persiapan berbuka ataupun sahur.

Namun indahnya bulan puasa di negeri orang tetap tidak sama dengan di tanah air. Dari sisi waktu, perbedaan 12 jam antara Indonesia dan Amerika tampak tidak sulit membedakan kapan waktu memulai ataupun berbuka puasa. Logika sederhana, kita tinggal membalik saja, kalau di Indonesia pagi, tentu di Amerika sore hari. Akan tetapi, perhitungan lamanya waktu berpuasa tidaklah sesederhana itu di sini.

Hidup di negara 4 musim sangatlah berbeda. Lamanya waktu berpuasa pun sangat terpengaruh oleh musim panas dengan waktu siang lebih panjang dari malam. Di negara bagian tempat saya tinggal, waktu berpuasa dimulai sejak jam 3.30 pagi sampai berbuka, jam 8.30 malam. Alhasil, ibadah puasa terbilang panjang, 17 jam lamanya. Rutinitas menjalani puasa dengan waktu demikian panjang merupakan tantangan tersendiri bagi saya yang datang dari belahan dunia dimana pembagian waktu siang dan malam rata-rata sama panjang.

Jangan dibayangkan dapat menjalani ibadah puasa senyaman di Indonesia. Musim panas dengan suhu rata-rata mencapai 32 derajat Celsius merupakan musim paling ditunggu warga Amerika Chicago. Hampir sepanjang tahun, mereka merasakan dinginnya salju, membatasi ruang gerak mereka di luar rumah. Kota Chicago terkenal dengan sebutan windy city atau kota angin, menunjukkan bagaimana angin dingin selalu bertiup sepanjang waktu kecuali di musim panas. Musim panas merupakan kesempatan bagi warga Chicago untuk beraktifitas, seperti bercengkerama sambil menyeruput minuman dingin, ataupun bermain air nan sejuk di tepian pantai berpasir halus danau Michigan. Pemandangan seperti ini menjadi ujian tambahan bagi saya di saat sedang berpuasa menahan lapar dan dahaga.

Sayangnya, ujian tidak berhenti sampai di situ. Panasnya musim panas terbawa ke panasnya panggung perpolitikan Amerika. Kaum muslim Amerika tersudut dengan berbagai pemberitaan miring terkait dengan Islam radikal. Sebagai penyusun 1% total penduduk Amerika Serikat, umat muslim Amerika menjadi kaum minoritas. Sayangnya di seluruh dunia, umat muslim sedang menjadi sorotan di tengah-tengah tumbuhnya paham radikal Islam dengan segala aksi teroris memembabi-buta. Beberapa peristiwa kekerasan dikaitkan dengan Islam radikal, sejak bom bunuh diri. Boston sampai peristiwa penembakan di sebuah pub di kota Orlando tepat di bulan Ramadan ini, membuat sebagian public Amerika mencibir Islam.

Menjelang pemilihan presiden di Bulan November nanti, seluruh kandidat berusaha menjual isu demi meraup suara pemilih, baik mengerti atau pun tidak mengerti politik. Tak elak, isu miring tentang Islam segera bahan konsumsi empuk kampanye kandidat, seperti halnya calon kuat dari Partai Republikan, Donald Trump. Kengerian bertambah mengingat, Trump meraup suara demikian banyak mengungguli kandidat lain dari partai sama merupakan tanda keberhasilan mengekploitasi isu Islam dalam kampanye. Syukurnya, keinginan kuat Trump untuk menutup akses masuknya muslim ke bumi Amerika, the land of the free, mendapatkan perlawanan keras dari berbagai pihak.

Perkembangan politik sedemikian menyudutkan Islam, membuat saya beserta keluarga dan mungkin juga segenap muslim di Amerika cemas. Usaha keras segenap muslim Amerika menunjukkan jati diri sebagai umat cinta damai, seolah pupus akibat perilaku segelintir orang tidak bertanggung jawab.

Hmm… Saya yang lahir dan besar di bumi Indonesia, tepatnya di Kota Bogor, dimana kaum muslim sebagai penduduk mayoritas, tidak mengalami kendala berarti menjalankan keyakinannya. Di bulan puasa ini, saya pun merenung bahwa hidup di negeri orang, terutama Amerika, membuat saya yakin bahwa kunci hidup berdampingan paling tepat adalah silahturahmi.

Silahturahmi membuat kita dengan beragam keyakinan saling mengenal. Ketika saling mengenal terjalin, maka tumbuhlah toleransi. Tantangan saya sebagai bagian umat muslim menjalankan ibadah puasa di tengah-tengah rimba Amerika, tidaklah menyurutkan niat saya untuk menyampaikan pada dunia bahwa saya seorang muslim penyinta kedamaian. Untuk itu, saya berkeyakinan betul bahwa mereka yang mengaku muslim namun berbuat kerusakan, sesungguhnya mereka sudah mencederai diri dan agamanya. [].

Ratri Istania, Alumnus SMAN 1 Bogor angkatan 1990, dan mahasiswi di salah satu universitas di Midwest, Chicago, Illinois, Amerika Serikat

LEAVE A REPLY

ten + 2 =